Islamikah tradisi Jilbab Kita



ESADARAN dalam menjalankan petunjuk agama adalah ciri wanita muslimah yang selalu berhati-hati dalam segaala hal, khususnya dalam berpakaian dan penampilan. Jilbab menjadi pakaian kebanggaan mereka, dan selalu berusaha untuk tampil yang terbaik, tidak berlebih-lebihan dan menyerupai wanita kafir. Daia tidak mau terperangkap pada perbudakan mode yang diatur oleh toko-toko busana dan orang-orang yang tidak mengakui kebesaran Allah, seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita pemboros dan bodoh.
            Pernahkah terlintas dibenak kita, mengapa mereka berjilbab? Dan siapa yang menyuruhnya? Mereka sadar bahwa itu adalah perintah Allah bukan karena mengikuti mode dan adat-istiadat yang diwariskan oleh orang tua mereka. Seperti halnya kebanyakan wanita-wanita sekarang, mereka berpakaian layaknya dikatakan sebagai pembukus tubuh, karena sempit, sehingga kecantikan dan keindahan tubuh menjadi tontonan dan dinikmati oleh orang-orang yang tidak berhak. Itu karena pengaruh mode yang semakin hari semakin bertambah deras lajunya dengan terbentang berbagai sarana informasi yang tidak mengenal batas dan waktu. Mereka beranggapan bahwa itu adalah busana muslimah yang sebenarnya. Padahal sebahagian aurat mereka terpampang keluar, seperti muka, leher, tangan dan kaki.

            Kenapa hal itu bisa terjadi? Salah-satu penyebabnya adalah, karena mereka salah persepsi tentang jilbab, disamping karena keimanan mereka yang menipis.

OKE DEH, BESOK KITA SAMBUNG LAGI YA, MENGENAI "KONSEP JILBAB MENURUT AL-QUR'AN" Keep Istiqomah para bidadari Surga ^_^

Lirik lagu Aneuk Yatim

Aneuk Yatim – by Rafly

Jino lon kisah saboh riwayat
Kini kuceritakan sebuah riwayat
Kisah baro that…baro that di Aceh Raya
Kisah yang baru terjadi di Aceh Raya
Lam karu Aceh..Aceh Timu ngon Barat ngon Barat
Dalam kekisruhan Aceh.. Aceh, Timur dan Barat
Di saboh tempat…tempat meuno calitra
Disuatu tempat..begini ceritanya
 
Na sidro aneuk jimo siat at
Ada seorang anak yang menangis terus
Lam jiep jiep saat saat dua ngon poma
Terus menagis dipangkuan ibunya
Ditanyong bak ma bak ma ayah jino pat..jino pat?
Ditanya pada ibunya, dimana ayah sekarang
Ilon rindu that…rindu that
Aku sangat rindu, rindu sekali
keuneuk eu rupa
ingin melihat wajahnya
Nyo mantong hudep meupat alamat
Kalau masih hidup, dimana tinggalnya
Uloun jak seutot ..jak seutot oh watee raya
kan ku datangi, datangi waktu lebaran
Nyo ka meuninggai..meuninggai
Jika meninggal..meninggal
Meupat keuh jirat ..ouh jirat
Mana kuburan kuburannya
Loun keuneuk jak siat …jak siat loun baca do’a
Aku kan dating kan dating, membaca doa
Udeep di poma oh tan lee Ayah
Hidup si ibu tanpa sang ayah
Loun jak tueng upah tueng upah
Ku cari kerja ya kerja
Loun bri bu gata
Untuk kehidupan bunda
Ka naseb tanyo geutanyo Kehendak bak Allah..bak Allah
Sudah nasib kita, kehendak Allah ya Allah
Adak pih susah… susah tetap loun saba
Walaupun susah oh susah tetap bersabar
Se eu’t lee poma…aneuk meutuah
Dijawab ibunya , wahai anakku
Kehendak bak Allah..bak Allah geutanyo saba
Kehendak Allah ya Allah, kita bersabar
Bek putouh asa ..hai asa cobaan Allah..Ya Allah
Jangan putus asa hai asa, cobaan Allah ya Allah
Saba ngon tabah ..ngon tabah dudo bahgia..
Sabar dan Tabah dan tabah, akhirnya bahagia
Talakee do`a ..taniet bak Allah
Kita berdoa, Niatkan pada Allah
Ubee musibah..musibah bek lee trok teuka
Semua musibah..musibah, jangan lagi datang
Aceh beu aman..beu aman bek lee ro darah..ro darah
Aceh harus aman, jangan lagi tumpah darah
Seuramo mekkah..mekkah beu kong agama.
Serambi Mekah, Kuatkan agama


Seulanga

By: Rafli, Kande
na bungong seulanga keumang
saboh bak tangke
meube harom hai sayang
di dalam taman
tatem beu tatem sibu
bungong nak luhu
tatem beu tatem sibu
bungong nak luhu
oh kalaye tho krang
seulanga nyan gadoh mangat bee
oh kalaye tho krang
seulanga nyan gadoh manget bee
wahe bungong ceudah hana ban
tamse nyak dara yang candeng rupa
di teuka bala dijak peu ayang
uroe ngen malam bungong di doda
sayang sayang leupah that sayang
oh troh bak wate bungong pih mala
kahabeh duroh bak tangke leukang
keubit that sayang naseb seulanga
wahe bungong ceudah hana ban
tamse nyak dara yang candeng rupa
di teuka bala dijak peu ayang
uroe ngen malam bungong di doda
sayang sayang leupah that sayang
oh troh bak wate bungong pih mala
kahabeh duroh bak tangke leukang
keubit that sayang naseb seulanga
kahabeh duroh bak tangke leukang
keubit that sayang naseb seulanga.


Rafli – Ainul Mardhiah

Ainul Mardhiah nyang cidah cidah lintek
Hana ngoen bandeng di dalam donya
Kulet jih puteh meujampu jampu kuneng
Bungong si limeng mirah warena (2x)
Dalam syuruga indah bukoen le
Meugantung kande ban ban seulingka
Kande meugantung bukoen ngoen taloe
Meugantung keudroe tuhan karonya
Ji beudoh beudoh cahya meu puseng puseng
Ta kaloen plang pleng hate that suka
Mata sang intan badan jih rampeng
Si bungong bungong sunteng asoe syuruga
Kembali (*)

CINTA DAN PERNIKAHAN


1.    Apakah cinta itu sebelum pernikahan atau sesudahnya?..

    
  Seringkali para remaja banyak perbedaan dalam tema cinta: apakah cinta itu sebelum menikah atau cinta lahir setelah menikah?..
      Diantara mereka mengatakan: Pernikahan adalah dibangun atas nama cinta, bagaikan satu syarat dalam dasar kesuksesan. Dan tidak didapati atau didasarkan sebab yang lain.
      Diantara mereka ada yang berpendapat: sesungguhnya cinta lahir secara alami setelah penikahan, dan ini  adalah jalan yang benar dalam pertumbuhan dan perkembangan cinta.
      Dan yang mengherankan bahwa pendukung pendapat pertama adalah mereka yakin bahwa kebahagiaan tidak akan terwujud kecuali hanya dengan cinta, tekadang mereka sukses dalam masa pertama, akan tetapi dengan cepat akan berakhir atau kegagalan dan mempertanyakan perasaan cinta sebelumnya:
      Dimanakah cinta yang kita sebelumnya?..
Hilang kemana cinta yang dulu itu? ..
Dimanakah cinta itu bersembunyi ? ..
Jawabnya menurut peneliti:
Dalam sebuah penelitian terbaru, jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan diatas adalah:
            Bahwa pernikahan yang dibangun atas nama cinta kebanyakan mengalami kegagalan, dan cinta yang bersifat turun tumurun adalah yang memiliki kesempatan besar dalam meraih kesuksesan.
            Menurut salah-satu penelitian yang dilakukan di Mesir menyebutkan bahwa sekitar 75% pernikahan yang dibangun atas nama cinta mengalami kegagalan dan perceraian, dan 96%dari pernikahan turun menurun mewujudkan kesuksesan yang cemerlang.
             Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Negara Francis bahwa sekitar 85% dari pernikahan yang dibangun atas nama cinta saja mengalami perceraian.
            Oleh sebab itu dari semua yang disebutkan peneliti bahwa kecacatan (kebiasaan buruk) itu muncul dengan jelas setelah menjalani hari-hari yang indah dan waktu yang mengesankan, yang tidak berdasarkan akal sehat dan perlahan, bahkan sandarannya hanya berdasarkan emosional belaka.
Disebutkan dalam penelitian feminis Amerika menyebutkan, bahwa usia pernikahan atas nama cinta belaka tidak akan berjalan lebih dari tiga tahun.
            Dari setiap kejadian dalam kehidupan kita, bahwa cinta sebelum pernikahan merupakan musibah. Pengorbanan yang kamu lakukan untuk kelanggegan cinta, tidak membuatmu bahagia dalam mempertahankannya dan ketika cinta itu melemah, maka seorang suami tiba-tiba menikah lagi dengan wanita lain tanpa sepengetahuannya!!
             Begitu banyak ditemukan istri yang berbeda dengan sifat sebelum mereka menikah, apakah itu kikir, akhlaknya jelek, tidak teguh pendirian, menginginkan perceraian dan ingin menikah dengan yang lain, apakah cinta itu seperti uap lalu bersembunyi, ataukah seperti tamu yang datang lalu pergi?.. dan yang terpenting adalah bahwa dia berbeda dengan sekarang ini!!
            Banyak juga para suami mendapatkan istri yang menginginkan sesuatu, apakah ingin melanjutkan pendidikan, bekerja, atau mengharapkan keluarganya ditanggung suaminya, lalu lahir pertanyaan: kemanakah cinta kita itu menghilang? ..
            Mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, agar kita mendapatkan jawaban yang sempurna, pertanyaan pada diri kita sendiri, agar kita mendapatkan jawaban yang sempurna, pertanyaan pada diri kita sendiri sebagai berikut:
v  Apakah cinta ini dibangun atas nama cinta belaka atau karena tanggung jawab? . .
v  Apakah cinta ini dibangun atas nama cinta belaka atau karena kekuatan untuk menanggung bersama dan hidup rukun? ..
v  Apakah cinta ini dibangun atas nama cinta belaka atau karena akal sehat dan keselarasan diri?..
v  Apakah cinta ini dibangun atas nama cinta belaka atau karena kecukupan materi dan kemasyarakatan? ..
v  Apakah cinta ini dibangun atas nama cinta belaka atau karena saling menghormati dan ambisi bersama? ..


 Semogga dengan jawaban dari pertanyaan diatas bisa mengetahui target dalam pernikahan dan kehidupan kita. Rahasia dari kesuksesan,  dan dari sana kita bisa memahami pentingnya cinta dalam kesuksesan ini, maka pernikahan adalah kehidupan remaja untuk  masa  depan mereka yang dijanjikan, yang dibangun dengan akal sehat dan hati, untuk meraih kenikmatan cintta dan kasih sayang diatas jalur Rabbani…

"SEMOGA BERMAMFAAT"^_^

SUMBER : Madhi, Jamal. 2009. "Fiqh Cinta". Al bayan: SOLO
v   

Dialektika Islam dan Kebudayaan Indonesia

  Islam datang ke Indonesia ada yang mencatat abad VII Masehi, tapi ada juga yang menyatakan abad XIII Masehi. Ini berarti Islam telah lama beradaptasi dan berdialog dengan budaya, adat kebiasaan, sikap dan cara berpikir penduduk lokal Indonesia. Terlebih lagi, banyak aspek dari ajaran Islam yang dapat bersifat fleksibel sehingga dapat menerima unsur-unsur lokal yang selaras dengan ajaran Islam.
 Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Yang mana Islam sebagai agama mampu mengkolaborasikan antara wahyu dan tradisi disebuah daerah. Sebut saja Arab, daerah dimana Islam pertama kali dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam mampu berdialektika dengan budaya Arab pada waktu itu, sehingga sedikit demi sedikit masyarakat dapat menerima kehadiran Islam. Kehadiran Islam di daerah Arab sangat memperhatikan unsur lokalitas daerah tersebut, dimana sebagian tradisi yang bersifat baik masih ada yang dipegang oleh masyarakat, dan itu tidak serta merta dihilangkan karena itu merupakan identitas budaya mereka.
 Islam masuk dan berbaur dalam suatu wilayah tentu saja tidak dalam keadaan budaya yang kosong. Begitu pula ketika Islam masuk ke Indonesia, sebelumnya telah ada kebudayaan Hindu Budha yang terlebih dulu singgah dan mengakar dalam kehidupan masyarakat indonesia. Perlahan Islam datang dan mampu berdialektika artinya mampu menyesuaikan diri dengan tradisi lokal, sehingga menghasilkan sintesa-sintesa baru perpaduan antara syariat Islam dan kondisi sosial di indonesia.
 Berbicara masalah tradisi, masih banyak tradisi pra Islam yang masih bertahan hingga sekarang di indonesia, seperti acara slametan, sedekah bumi ataupun sedekah laut merupakan tradisi lokal pra Islam yang memang sebelum Islam datang masih dilakukan dengan ritual ritual, namun ketika Islam datang semua itu tidak langsung kita ganti dengan kebudayaan yang baru, melainkan kita hanya menggantinya dengan cara yang sesuai dengan syariat Islam. Segala sesuatu yang dalam melakukannya dahulu dilakukan dengan ritual setelah Islam masuk ritual tersebut digantikan dengan doa doa.
 Sebuah contoh bahwasanya Islam di Indonesia merupakan sintesa antara wahyu dan tradisi lokal. Sebut saja sholat, menurut syariat Islam salah satu syarat sah shalat adalah menutup aurat. Dari ini kita bisa melihat betapa indahnya Islam dalam mentranformasikan budaya lokal. Shalat dan menutup aurat adalah syariat, sedangkan mengenakan mekena, sarung, peci, baju koko adalah sebuah budaya yang ada di Indonesia. Hal ini tidak bisa kita samakan dengan tradisi di Arab. Sama sama shalat dengan syarat menutup aurat, tapi yang dikenakan di Arab sangatlah berbeda dari kita, tidak ada mekena ataupun sarung, yang ada jubah, cadar kaos kaki atau kaos tangan yang penting esensinya adalah menutup aurat, dan itu merupakan identitas diri mereka yang itu sesuai dengan tradisi dimana mereka tinggal.
 Dari sebuah contoh diatas kita dapat secara jelas menarik sebuah kesimpulan bahwasanya walaupun Islam itu datang pertama kali dari Arab, kita tidak bisa menerapkan tradisi-tradisi dari daerah Arab ke Belahan bumi indonesia. Karena dapat kita lihat bahwasanya kita memiliki corak kehidupan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Proses penerapan Islam sesuai dengan daerah Arab akan membuat penduduk Indonesia terlepas dari akar budayanya sendiri.  Jadi biarkanlah Islam di indonesia ini berdialektika dengan budayaa lokal indonesia yang akan menghasilkan sintesanya sendiri yang tidak hilang dari esensi syari’at Islam.

 Islam mampu bernegosiasi terhadap budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat dimanapun mereka berada. Islam juga tidak menyerang lokal Knowledge (Pengetahuan masyarakat lokal) yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat, yang kemudian menghasilkan Islamisasi, yang mana kebiasaan yang dianggap baik dan yang tidak merusak syari’at Islam itu masih diadopsi. Dan  Yang perlu diperhatikan dalam pembahasan dialektika antara Islam dan kebudayaan Indonesia itu adalah bagaimana proses Islamisasi dan arabisasi didaerah tersebut J

Hikayat perang sabi yang ditakuti dunia


Aceh dulu sebuah negeri jaya dan megah yang pernah menjdi salah-satu kerajaan terbesar di Asia Tenggara selama 407 (1496-1903) tahun, dengan menyandang nama “ Kerajaan Aceh Darussalam” Aceh negeri tanpa sultan selama 42 tahun (1903-1945), Negeri yang tak pernah berhenti berperang hingga dalam satu kisah konon rakyatnya dari 10 juta tersisa 3 juta jiwa, woowww .... Aceh kini hanya sebuah daerah yang telah bernaung selaa 66 tahun (1945-2011) dalam NKRI sebagai sala-satu Provinsi.
 Hikayat Prang Sabi adalah sebuah hikayat yang diciptakan atau dikarang oleh Tgk Chik Pante Kulu yang merupakan sebuah syair kepahlawanan yang membentuk suatu irama dan nada yang sangat heroik yang membangkitkan semangat para pejuang Aceh dari zaman penjajahan portugis sampai zaman penjajahan Belanda.
          Hikayat Prang Sabi adalah salah satu inspirator besar dalam menentukan perjuangan rakyat Aceh. Memang sejak dulu bangsa Aceh sangat akrab dengan syair-syair perjuangan Islam, sajak-sajak akan sebuah hakikat keadilan. Hikayat ini selalu diperdengarkan ke setiap telinga anak-anak aceh, laki-laki, perempuan, tua muda, besar kecil dari zaman ke zaman dalam sejarah Aceh Sepanjang Abad.
Kalau kita belajar dari sejarah, maka Aceh lah negeri yang paling ditakuti oleh Portugis dan sulit untuk ditaklukkan oleh Belanda sejak tahun 1873 serta Jepang. Beribu macam taktik perang yang digunakan oleh para penjajah tetapi tidak dapat menguasai Aceh yang unggul dengan taktik perang gerilyanya. Sejarah mencatat bahwa perang kolonial di Aceh adalah yang paling alot, paling lama, dan paling banyak memakan biaya perang dan korban jiwa penjajah.Pengaruh hikayat perang sabil hasil karangannya, telah mampu membangkitkan semangat jihad siapa saja yang membaca ataupun mendengarnya untuk terjun ke medan perang melawan penjajahan Belanda ketika itu. Sehingga Zentgraf dalam bukunya “Aceh” (1983) menulis banyak pemuda yang memantapkan langkahnya ke medan perang Aceh melawan Belanda karena pengaruh buku hikayat perang sabil yang sengaja ditulis seorang ulama besar Aceh bernama Tgk. Muhammad Pante Kulu.
Menurut Zentgraf, hikayat perang sabil karangan ulama Pante Kulu telah menjadi momok yang sangat ditakuti oleh Belanda, sehingga siapa saja yang diketahui menyimpan-apalagi membaca hikayat perang sabil itu mereka akan mendapatkan hukuman dari pemerintah Hindia Belanda dengan membuangnya ke Papua atau Nusa Kembangan. Sarjana Belanda ini menyimpulkan, bahwa belum pernah ada karya sastra di dunia yang mampu membakar emosional manusia untuk rela berperang dan siap mati, kecuali hikayat perang sabil karya Pante Kulu dari Aceh. Kalau pun ada karya sastrawan Perancis La Marseillaise dalam masa Revolusi Perancis, dan karya Common Sense dalam masa perang kemerdekaan Amerika, namun kedua karya sastra itu tidak sebesar pengaruh hikayat perang sabil yang dihasilkan Muhammad Pante Kulu.
Itu sebabnya, Ali Hasjmy menilai bahwa hikayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu telah berhasil menjadi karya sastra puisi terbesar di dunia. Menurut Hasjmy, pengaruh syair hikayat perang sabil sama halnya dengan pengaruh syair-syair perang yang ditulis oleh Hasan bin Sabit dalam mengobarkan semangat jihad umat Islam di zaman Rasulullah. Atau paling tidak, hikayat perang sabil karya Chik Pante Kulu dapat disamakan dengan illias dan Odyssea dalam kesusastraan epos karya pujangga Homerus di zaman “Epic Era” Yunany sekitar tahun 700-900 sebelum Mesehi.
Mengapa hikayat perang sabil begitu berpengaruh dalam membangkitkan semangat jihat perang orang Aceh melawan Belanda. Menurut telaahan, hikayat perang sabil yang ditulis Chik Pente Kulu ini terdiri dari empat bagian (cerita). Pertama, mengisahkan tentang Ainul Mardhiah, sosok bidadari dari syurga yang menanti jodohnya orang-orang syahid yang berperang di jalan Allah. Kedua, mengisahkan pahala syahid bagi orang-orang yang tewas dalam perang sabil. Ketiga, mengisahkan tentang Said Salamy, seorang Habsi berkulit hitam dan buruk rupa. Keempat, menceritakan tentang kisah Muda Belia yang sangat mempengaruhi jiwa para pemuda untuk berjihat di medan perang melawan kezaliman penjajahan Belanda.
Ada dua Versi pendapat tentang Tgk. Chik Pente Kulu dalam mengarang hikayat perang sabil ini. Sebagian mengatakan, hikayat perang sabil ini dikarang Chik Pante Kulu ketika beliau dalam perjalanan pulang dari Mekkah ke Aceh. Berarti hikayat perang sabil ditulis Chik Pante Kulu di atas kapal selama dalam pelayarannya dari Arab ke Aceh. Pendapat lain mengatakan, hikayat perang sabil ini ditulis Chik Pante Kulu adalah atas suruhan Tgk. Chik Abdul Wahab Tanoh Abee yang lebih dikenal Tgk. Chik Tanoh Abee.
Karena, pada waktu Tgk. Muhammad Saman Ditiro meminta izin pada Tgk. Chik Tanoh Abee untuk berperang melawan Belanda. Maka saat itu Tgk. Chik Tanoh Abee menanyakan pada Tgk. Chik Ditiro: “Soe yang muprang dan soe yang taprang?”. Chik Ditiro menjawab: “Yang muprang Muhammad Saman, yang taprang kafe Belanda”. Menurut hikayat marga tanoh abee, sekiranya waktu itu Chik Ditiro menjawab, yang muprang ureung Islam, yang taprang Belanda. Kemungkinan Tgk. Chik Tanoh Abee tidak merestui Chik Ditiro untuk berperang, karena kalau orang Islam yang berperang, karena di kalangan orang Islam sendiri masih banyak yang harus diperangi, yaitu orang-orang yang bukan Islam sejati.
Tetapi karena jawaban Tgk. Chik Ditiro: yang muprang Muhammad Saman dan yang taprang kafe Belanda, maka Tgk. Chik Tanoh Abee merestui Tgk. Chik Ditiro menggerakkan peperangan untuk melawan Belanda. Dalam mendukung gerakan perang ini Tgk. Chik Tanoh Abee mengarang khusus hikayat perang sabil dalam bahasa Arab untuk pimpinan-pimpinan perang. Sedangkan untuk lasykar perang hikayat perang sabilnya dikarang oleh Tgk. Chik Pante Kulu dalam huruf Jawi berhasa Aceh, yang kemudian hikayat perang sabil karangan Tgk. Chik Pante Kulu ini membawa pengaruh luar biasa dalam membangkitkan semangat jihad lasykar Aceh berperang melawan Belanda.
Salah satu bagian paling penting dari Hikayat Prang Sabi adalah pendahuluan atau mukadimah. Bagian yang juga berbentuk syair ini menunjukkan secara jelas tujuan ditulisnya Hikayat Prang Sabi, dalam hubungannya dengan perang melawan Belanda. Setelah diawali dengan puji-pujian kepada Allah pencipta semesta alam, syair-syair pada mukadimah berlanjut pada seruan untuk perang Sabil. Juga disebutkan satu pahala yang dapat diperoleh bagi mereka yang berjihad dalam perang Sabil (jalan Allah-Red). Salah satu pahala yang akan diterima mereka yang mati syahid dalam perang tersebut adalah akan bertemu dengan dara-dara dari surga ( Bidadari ).
HIKAYAT PRANG SABI
Salam alaikom walaikom teungku meutuah
Katrok neulangkah neulangkah neuwo bak kamoe
Amanah nabi...ya nabi hana meu ubah-meu ubah
Syuruga indah...ya Allah pahala prang sabi....

Ureueng syahid la syahid bek ta khun matee
Beuthat beutan lee...ya Allah nyawoung lam badan
Ban saree keunueng la keunueng senjata kafee la kafee
Keunan datang...ya Allah pemuda seudang...

Djimat kipah la kipah saboh bak jaroe
Jipreh judo woe ya Allah dalam prang sabi
Gugor disinan-disinan neuba u dalam-u dalam
Neupuduk sajan ya Allah ateuh kurusi...

Ija puteh la puteh geusampoh darah
Ija mirah...ya Allah geusampoh gaki
Rupa geuh puteh la puteh sang sang buleuen trang di awan
Wat tapandang...ya Allah seunang lam hatee...

Darah nyang ha-nyi nyang ha-nyi gadoh di badan
Geuganto le tuhan...ya Allah deungan kasturi
Di kamoe Aceh la Aceh darah peujuang-peujuang
Neubi beu mayang...ya Allah Aceh mulia...

Subhanallah wahdahu wabi hamdihi
Khalikul badri wa laili adza wa jalla
Ulon peujoe Poe sidroe Poe syukoe keu rabbi ya aini
Keu kamoe neubri beu suci Aceh mulia...

Tajak prang meusoh beureuntoh dum sitre nabi
Yang meu ungkhi ke rabbi keu poe yang esa
Soe nyang hantem prang chit malang ceulaka tubuh rugoe roh
Syuruga tan roeh rugoe roh bala neuraka...

Soe-soe nyang tem prang cit meunang meutuwah teuboh
Syuruga that roeh nyang leusoeh neubri keugata
Lindong gata sigala nyang muhajidin mursalin
Jeut-jeut mukim ikeulim Aceh mulia...

Nyang meubahagia seujahtera syahid dalam prang
Allah peulang dendayang budiadari
Oeh kasiwa-sirawa syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamông syuruga tinggi...

Budiyadari meuriti di dong dji pandang
Di cut abang jak meucang dalam prang sabi
Oh ka judo teungku syahid dalam prang dan seunang
Dji peurap rijang peutamong syuruga tinggi...

       Tidak mengherankan, Sehingga kemudian penyair Taufik Ismail mengabadikan kehebatan hikayat perang sabil karya Tgk. Chik Pante Kulu ini dalam sebuah syair panjangnya berjudul : “Teringat Hamba Pada Syuhada Kita Dihari Kemerdekaan, Musim Haji 1406 H”. Taufik bersyair:…
Nampakkah olehmu puisi itu?
Diserahkan kepada Teungku Chik Ditiro
Di sebuah desa di dekat Sigli
Dan puisi itu berubah menjadi sejuta Rencong...

Terdengarkah olehmu?
Merdunya Al Furqan dinyanyikan
Kemudian puisi perang sabi dibacakan
Yang mendidih darah memanggang udara
Menjelang setiap pasukan terlibat pertempuran
Mengibarkan Panji fi-sabilillah…

Hamba menulis puisi juga
Tapi betapa kurus puisi hamba
Kurang sikap ikhlas hamba
Banyak ria dan ingin tepuk tangan...

Apalah artinya dibandingkan puisi Perang sabi Muhammad Pante Kulu ...
Allah, berkahi penyair abad sembilan belas ini
Beri dia firdaus seluas langit bumi…

       Begitu hebatnya Tgk. Chik Pante Kulu di mata penyair Taufik Ismail. Sampai-sampai Taufik menilai puisi-puisi yang ditulisnya selama ini belum memiliki arti apa-apa dibandingkan kebesaran syair hikayat perang sabil yang ditulis Tgk. Chik Pante Kulu. Ulama dan pujanggawan kelahiran 1836 M di Desa Pante Kulu, Kemukiman Titeue, Kota Bakti, Pidie ini, telah lama meninggalkan kita. Namun hikayat perang sabil yang ditinggalkan tetap hidup di jiwa orang yang memang Aceh sebagai hasil karya sastra terbesar yang diakui dunia pada zamannya.